Jakarta (BUMNWatch) -- Serikat Pekerja Maskapai Garuda Indonesia, menurut rencana Rabu (15 April 2009), akan berdialog dengan BUMN Watch, sejalan dengan sinyalemen yang pernah dipublikasikan BUMN Watch yang menyebutkan sistem penjualan tiket Maskapai Garuda rawan manipulasi.
Ketua BUMN Watch, H Naldy Nazar Haroen menyebutkan kemarin, dia telah menerima SMS dari Ketua SP Garuda, yang menginformasikan kebenaran sinyalemen tersebut, bahkan banyak lagi kerawanan di maskapai nasional itu, misalnya menyangkut rencana pengalihan utang Garuda menjadi kepemilikan saham asing, yang sangat memungkinkan perusahaan tersebut dikuasai pihak asing.
Sebelumnya BUMN Watch menilai sistem penjualan tiket pesawat Garuda, baik penerbangan dalam negeri maupun ke luar negeri, rawan manipulasi. Untuk ini dia minta Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan mengauditnya.
Naldy mengambil contoh, tiket reguler dan tambahan Garuda untuk angkutan Lebaran tahun lalu dinyatakan hampir habis dipesan pemudik. Bahkan untuk keberangkatan menjelang Lebaran pun habis, hingga calon penumpang harus bersedia jadi cadangan atau berangkat dengan maskapai lain.
Anehnya, menurut Naldy, kalau pergi ke travel yang sudah ditunjuk dan mau membeli tiket dengan harga lebih mahal dari harga resmi, tiket mudah didapatkan.
Dalam beberapa kali perjalanannya, Naldy mengaku kerap kesulitan mendapatkan tiket, paling-paling sebagai cadangan. yang mengherankan, saat saya berada dalam pesawat, saya lihat tak semua tempat duduk terisi. Ini kan aneh, bagaimana bisa dikatakan tiket sudah habis, buktinya banyak kursi kosong saat penerbangan. Kalau begini terus, negara bisa rugi, ucapnya.
Naldy mencurigai dalam sistem penjualan tiket ini permainan oknum dengan travel untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok. Untuk membuktikan semua ini, dia bersama pengurus dan simpatisan BUMN Watch akan mengambil foto kursi-kursi kosong dalam setiap penerbangan dengan mencatat nomor penerbangan, tujuan, hari, tanggal kejadian, serta harga tiket Garuda di travel-travel sebagai barang bukti.
Dalam keterangan sebelumnya, Vice President Corporate Communication Garuda, Pujobroto mengatakan, penambahan kursi selama Lebaran ini dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan menambah frekuensi penerbangan. Kedua, menambah pesawat yang kapasitasnya lebih besar.
Garuda akan mengoperasikan pesawat dengan kapasitas lebih besar untuk rute Surabaya - Bali dengan rencana penambahan penumpang sebanyak 636 kursi. Ditambahkan, kebijakan penambahan kursi yang dilakukan oleh Garuda untuk Lebaran nanti adalah flexible response. Perencanaan berdasarkan kondisi yang terjadi pada saat itu dan diputuskan secepatnya secara on the spot, tandas Pujo.
Dia memberi contoh flexible response adalah pada Lebaran 2007 lalu merencanakan menambah 28.839 kursi, namun pada perkembangannya kebutuhan lebih sesar dari kapasitas tambahan tersebut. Karenanya, Garuda kemudian menambah lagi sebanayk 13.604 kursi. Sehingga pada Lebaran 2007 angkutan tambahan menjadi 43.443 kursi.
Naldy mengingatkan agar persoalan-persoalan layanan ini dibenahi terlebih dahulu sebelum nanti IPO (penjualan saham perdana). Jika praktek-praktek seperti ini tak segera ditertibkan, bisa-bisa Garuda tak dinominasikan masuk dalam privatisasi tahun 2009.
Walau memang kinerja keuangan Garuda dalam satu tahun terakhir ini membaik, sebagai mana tercermin dari laba bersih 2007 sebesar Rp 258 miliar, namun ini belum mampu menutupi kerugian tiga tahun sebelumnya, dimana rapor keuangan perusahaan penerbangan Pelat merah ini masih defisit Rp811,3 miliar (2004), Rp 688,4 miliar (2005), Rp197 miliar (2006),& ucap Naldy. sumber: http://bumnwatch.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar